Dua Bungkus Jus Alpukat

“Koh, seperti biasa ya, jus alpukat dua bungkus ga pake es, gula sama susu.”

Dua kali sehari gue membeli dua bungkus jus alpukat tanpa es, gula dan susu. Rutinitas ini bisa dibilang hobi baru gue karena baru gue jalanin sekitar satu bulan lebih. Awalnya gue bingung mau beli jus dimana, sampai akhirnya gue ngelihat kerumungan orang yang mengantre di ruko yang bertuliskan ‘Es Singkawang, Aneka Buah dan Jus’ ga jauh dari kompleks rumah gue. Filosofi orang yang mengatakan, tempat jualan yang ramai dikunjungi pembeli pasti kualitas bagus (sotoy parah).

Tiap kali menunggu jus selesai dibuat gue sering memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang ‘mungkin’ ada dibenak si penjual. Seperti ini kira-kira..

Ni orang tiap hari beli jus alpukat ga bosen apa, dua kali sehari tiap dateng 2 bungkus. Ga pake gula sama es, apa rasanya? Apa jangan-jangan dia kamuflase beli di tempat gue buat nyuri cara ngeracik es singkawang? Ah peduli amat yang penting dagangan gue laris!

Gue beli jus alpukat ini bukan buat gue, tapi buat ibu. Ibu gue juga sebenernya ga suka-suka amat sama alpukat tapi dokter bilang makan alpukat bisa bantu mempercepat kerja antibiotik yang ibu minum. Ibu terkena penyakit paru-paru, dokter mengatakan bahwa paru-paru ibu terendam air yang sampai saat ini ga ada yang tau datangnya dari mana.

Awalnya ibu batuk berkepanjangan. Ibu minum obat batuk yang dijual di toko obat karena dikira batuk flu biasa. Beli obat batuk ini, itu, tapi batuk ibu ga juga sembuh. Gue suka kasian kalau liat ibu batuk, suaranya seperti batuk yang tersendak makanan. Sering gue kebangun di tengah malam ngedengar ibu batuk-batuk. Yang bisa gue lakuin cuma memberikan minyak di leher dan air putih anget.

Di tengah batuk yang belum sembuh, tipes (thypus) ibu kambuh. Bayangkan saja, tiap kali asupan yang ibu makan keluar lagi ketika rasa gatal yang menggelitik itu datang. Alhasil pencernaan ibu terganggu. Bapak langsung membawa ibu ke rs dekat rumah untuk diperiksa. Sebelum berangkat ibu ngomong kalo dia ga mau dirawat di rs.

Sepulangnya dari rs, ibu mendatangi gue, menutup mata dan nangis..

“Ibu banyak dosa, ibu penyakitan!”

Tersentak gue kaget ngeliatnya. Gue bingung ga tau apa-apa, gue ga ikut ke rs karena gue belom bangun. Bibi bilang ibu sama bapak pergi jam7 pagi.

Setelah tenang ibu cerita kalau ibu positif tipes tapi ibu bersikukuh untuk rawat jalan tanpa harus dirawat. Selain itu, ibu mengeluarkan hasil ronsen dan bilang kalau di dalam paru-paru ibu terdapat cairan yang menyebabkan batuk yang tak kunjung reda.

Sehari-dua hari ibu masih kuat istirahat di rumah, di hari ketiga ibu drop dan langsung dibawa ke rs untuk dirawat. Saat itu ibu dirawat di RS Sari Asih Tangerang. Seminggu ibu dirawat di sana. Tipes ibu sudah sembuh, tapi kami (sekeluarga) ngerasa penanganan dari rs tersebut untuk mengobati paru-paru sangat kurang. Lalu ibu dibawa ke RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo di Cisarua Bogor. Gue yang mengusulkan rs itu karena mendapat usulan dari teman yang pernah berobat di sana.

Jarak Tangerang-Bogor cukup menguras tenaga. Bapak, ibu, dan gue berangkat dari rumah jam5 pagi untuk menghindari macet dan antre panjang. Di sana, ibu langsung ditangani dan disedot paru-parunya. Saat disedot paru-paru gue cukup ikut tegang  karena gue pikir bakal dimasukin selang dari hidung ke paru-paru (cerita dari om yang pernah kena penyakit yang sama). Tapi ibu diambil dengan melalui ruas-ruas tulang belakang. Cukup unik tangan kanan/kiri diangkat ke atas kepala (tergantung paru-paru sebelah mana yang mau disedot) dari antara ruas dimasukkan jarum dan disedot seperti donor darah. Setelah disedot keduanya, ibu diberi obat dan harus diminum selama 6 bulan lamanya untuk mengeringkan paru-parunya. Obat itu harus diminum saat bangun tidur, 2 jam setelah bangun tidur, 1 jam setelah bangun tidur, siang hari, malam hari, dan obat maag. Dokter bilang kalau obat itu putus di tengah jalan pengobatan akan diulang dari awal.

Beberapa hari setelah berobat ke Bogor, ibu drop lagi. Ternyata obat paru-paru dengan obat maag tidak cocok jika dikombinasi di perut ibu, ditambah batuk yang belum juga reda. Sembuh sesudahnya, ibu kembali drop. Kali ini lebih mengerikan.. seluruh badan ibu dingin, pucat, susah digerakkan. Ibu dilarikan ke RS Siloam Tangerang. Beberapa kali gue berantem sama dokter di sana. Dokter paru lama menangani pasien rawat inap karena ia buka praktek di poli. Alhasil, dokter jaga (yang cuma berstatus dr. tanpa embel-embel di belakang namanya) yang ngurus..

“Dokter parunya mana? Ibu saya waktunya minum obat tapi badannya masih drop dingin, ibu saya ga berani minum obatnya lagi sebelom keputusan dari dokternya!” gue pake nada tinggi.

“Obat paru ga ada yang buat gejala seperti itu, kalau ibu mau minum silahkan kalau tidak silahkan. Konsekuensinya ibu ngulang dari awal,” ujar si dokter tanpa embel-embel dibelakangnamanya.

“Itu bukan solusi! Lo sebagai dokter solusi lo apa?” makin tinggi.

“Menurut saya obatnya diminum sambil nunggu dokter XXX datang,”

“OK, kalau ada apa-apa sama ibu gue, lo yang tanggung jawab!” sambil nunjuk tu dokter.

Tuh dokter hanya ngangguk dan pergi meninggalkan kamar. Beberapa menit kemudian dokter paru datang langsung menangani ibu. Ternyata obat batuk yang diberikan dokter terlalu keras yang menyebabkan seluruh tubuh ibu jadi dingin. Singkat cerita, di lambung ibu terdapat polip kecil 7 buah terlihat saat di-endoskopi. Polip diangkat dan sekarang ibu dalam masa penyembuhan. Berat rasanya ngejalanin masa-masa dimana ibu drop dan harus dibawa ke rs. Apalagi berat badan ibu turun drastis. Gue baru sadar kalau ‘being healthy is (actually) cheap, being sick is expensive.’

Rutinitas ibu minum jus alpukat upaya dapat energi tambahan terlepas dari asupan makan berat karena ibu ga cocok minum susu maupun buah lainnya. Mencari alpukat matang itu sulit, jarang ada alpukat matang yang dijual, meski di Total Buah sekalipun. Penyakit yang diberikan Tuhan, pasti ada hikmah dibalik semua itu..

 

“Maaf ya Mas, skripsi kamu jadi ketunda karna jagain ibu. Pasti ada jalan buat kamu yang udah berbakti sama orangtua.”

Tangerang, 20 Maret 2012, 1:17 WIB.

1 note

Saksikan di bioskop kesayangan Anda!

Saksikan di bioskop kesayangan Anda!

Just 3, No More..

3 hal yang tidak pernah kembali

- waktu

- perkataan

- kesempatan

3 hal yang tidak pernah kekal

- harta

- jabatan

- cinta manusia

3 hal yang membuat dewasa

- kesabaran

- ketulusan

- rasa syukur

3 hal membuat berharga

- komitmen

- kerendahan hati

- kejujuran

Its not hard to die when you know you have lived
Desperate Housewives